Tuesday, July 12, 2011

Dokter apaaa arsitek?

Eheeeeemm, tarik nafas panjang. Dokter? Dokter gigi lebih tepatnya, sumpah ini cita-cita yang lagi sangat sangat jauh diatas ambang sangat-yang sangat mengambang. Mudeng gak?
Beberapa bulan yang lalu, aku bener-bener pingin, dan sudah membulatkan tekad, buat banting stir, buat berjuang jadi dokter. Entahlah, awalnya sih gara-gara aku ini gak pinter mainan rumus matematika gitu, makanya dengan gak gampangnya, aku rela, merelakan ambisiku yang udah sedari kecil, buat jadi arsitek, demi jadi dokter-gigi.

Setelah berkonsultasi sama beberapa temen, teman les yang lagi kuliah di kedokteran lebih tepatnya, ndengerin dari guru BK, dan kebetulan juga kemarin waktu nemenin masku cari kos-kosan di Malang, eh salah satu yang tinggal disitu ada anak kedokteran Unibraw juga, jadinya dapet cerita-cerita juga, pengalamannya kuliah di kedokteran, yang termasuk udah jadi kawakan juga-mahasiswa abadi-haha.

Ternyata dari ceritanya, hal-hal absurd yang awalnya hanya kudengar absurd, sekarang menjadi sangat jelas, jadi dokter itu harus menempuh perjalanan yang sangat panjang, mengahabiskan waktu, tenaga, dan tak ketinggalan, materi.

Saking labilnya aku, aku pikir-pikir lagi, wah kayaknya gak semudah itu, akhirnya aku balik lagi, ke cita-cita awalku, jadi arsitek.
Haaahhh, aku bingung sumpah, ternyata, eyang sama ayahku udah ngarep..aku bisa jadi dokter.

No comments:

Post a Comment