Why? Kalo kita hidup di dunia nyata, kenapa kita masih harus berperan lagi di dalamnya? Kalo kita hidup dituntut untuk jujur untuk apa ada yang namanya kebohongan?
Dan kalo kita harus hidup dengan ada nya teman dan musuh, kanapa harus masih ada yang namanya muka dua? Kenapa kita tidak bisa hanya bisa menjadi satu diantara dua itu? Dan kalo kita tanya kepada diri kita sendiri, sebenarnya kenapa kita harus turun ke galaksi bima sakti ini, dan masih saja tidak ada yang bisa menjawabnya, lalu sebenarnya untuk apa?
Kenapa harus ada kebencian diantara cinta yang menjadi dasar dari setiap manusia untuk hidup berdampingan? Untuk apa ada kemarahan dari setiap kesabaran yang selalu kita usahakan dari setiap kekecewaan yang kita terima? Dan kenapa harus timbul masalah dari setiap pokok masalah?
Ya Tuhan, adakah yang mengetahuinya.? Aku ini kesepian. Diantara berjuta-juta manusia di hadapanku, kenapa tidak ada yang menyanyikan tiupan gembala yang mengusir dan membuang segala rasa kesepian ini? Kenapa aku masih merasa, kanapa tidak ada yang mengerti aku? Kenapa aku selalu di nomer duakan. Kenapa aku selalu dibedakan. Kenapa aku selalu tak dianggap? Kenapa harus ada besok, kalo hari ini sudah gagal? Kenapa harus ada kesempatan kedua dari satu putaran waktu yang tidak bisa di putar kembali?
Kenapa harus ada umpatan kasar yang menyertai di setiap amarah yang hanya ia lempar kepadaku. Apakah aku sebegitu tidak bisa berterima kasih? Pernahkah aku meminta banyak hal secara paksa kepadanya? Aku tidak tahu.
Dan, kalau besok aku tidak bisa melihatnya lagi, bisakah kau sampaikan padanya, sejuta maafku yang tak pernah kukatakan? Sejuta kekurangan yang aku sadari tidak akan pernah menjadi suatu benang lurus yang tidak akan patah walaupun panasnya korek api menyengat setiap bagian yang mempersatukannya. Dan kalau saja mereka tahu. Aku hanya butuh kasih sayang yang memberiku semangat dan motivasi. Bukan kata-kata yang membuatku merasa paling jelek untuk hanya mengetik tulisan seperti ini. Dan andai saja kalian tahu..
Setiap kata yang aku ucapkan hanyalah ungkapan rasa kesepianku yang nggak tahu harus dihilangkan dengan cara seperti apa. Dan mungkin hanya barisan huruf di keyboard inilah yang mengerti seberapa tidak adilnya rasa sayang kalian untukku, yang masih membutuhkan perhatian dan kompas untuk aku berjalan.
Dan kalaupun kalian tidak mau. Dan kalaupun kalian tidak akan mengurus aku lagi.
No comments:
Post a Comment